Apr 09

Kamu Ingin Mulai Walimah? Berikut Langkah yang Kudu Diingat

Pernikahan merupakan impian dan menjadi waktu yang dinantikan banyak orang. Tidak cuma dirimu seindiri yang menantikan momen sakral ini, orang tua kamu pasti juga menantikannya

Ketika hari lamaran. Kamu melewati masa-masa yang menegangkan? Ayah ibu-mu juga merasakannya! Kalau dirimu merasa ini adalah momen yang berkesan di kehidupan kamu, demikian halnya yang dirasakan oleh ayah dan ibumu. Orang tua berdua sangat memahami seluruh capaian dalam hidupmu.

Ibu dan ayah sudah membawamu ke alam dunia (atas kehendak Allah) serta melakukan banyak pengorbanan ketika merawatmu. Yang senantiasa menemani di hari pertamamu belajar jalan dan mengoceh, masuk aktifitas sekolah hingga tamat dari perguruan tinggi, hari pertama kamu diterima kerja, saat-saat kamu sedih dan bahagia, dan termasuk hari ketika kamu dipertemukan dengan calon pasangan hidup.

Hari Ketika Kamu Memutuskan Untuk Menikah

Sebagai orang yang menjalani pesta pernikahan, normal kalau kamu menganggap bahwa resepsi pernikahanmu sepenuhnya milikmu seorang.

Kamu mau menyelenggarakan rangkaian resepsi pernikahan yang sudah kamu idamkan sejak lama. Tapi kadang kali, rencana pernikahan yang kamu impikan jauh berbeda dari keinginan orang tua. Kamu pun ingin mempertahankan idealismu.

Kalau memang demikian halnya, ada baiknya jangan buru-buru terbawa emosi. Kendalikan keinginanmu yang berlebih. Kamu tidak mampu mengabaikan keberadaan orang tua. Bagaimanapun juga, peran ayah ibu dalam hari pernikahanmu tidak dapat {dielakkan}. Ayah dan ibu akan turut andil dalam proses pernikahan yang lancar dan berkesan.

Ayah dan ibu mempunyai peran yang penting pada setiap acara pernikahan. Mulai dari acara pranikah, persiapan upacara pernikahan yang baik dari segi adat maupun agama, sampai acara pernikahan di hari H.

Untuk menggapai impian pernikahan yang kamu idamkan, terlebih dulu kamu mesti mengerti bahwa keberadaan ayah dan ibu sangat penting. Sebab, seringkali acara pernikahan itu juga merupakan hari yang juga dinantikan untuk mereka.

Bertunangan Dahulu, Jalankan Pernikahan Kemudian

Tentu ada proses lamaran sebelum adanya pernikahan. Pria akan datang ke rumah perempuan. Laki-laki akan meminta restu dari orangtua terutama ayah si gadis untuk menikahi putrinya. Sebenarnya si pemuda boleh saja datang sendiri menemui ayah gadis yang disukainya. Namun sekekar dan sekuat apapun seorang pria, bergetar juga kakinya kalau datang ke tempat tinggal perempuan tanpa ditemani kerabat terdekat. Karena menikah merupakan sebuah langkah besar. Ia hendak meminta anak gadis orang untuk menjadi teman hidupnya.

sebab itu, menjadi tanggung jawab orang tua dari pihak si pemuda untuk menjumpai orang tua si perempuan. Orang tua akan mengantar sekaligus mendampingi anaknya untuk meminang si wanita. Mereka akan memberikan dukungan moril bagi anaknya.

Dengan orang tuanya, keyakinan si laki-laki akan semakin bulat menuju pintu gerbang rumah si gadis. Orang tuapun berinisiatif mengajak keluarga yang lain seperti eyang serta kakak atau paman juga bibi si pemuda.

Mereka akan berkunjung tidak dengan bertangan hampa membawa berbagai seserahan. Ayah ibu si pria akan membawa oleh-oleh sesuai budaya adat yang berlaku. Mereka akan sibuk persiapkan diri demi bertemu dengan orang tua si perempuan. Jadilah lamaran sebagai momen keluarga juga, tidak hanya punya kedua calon mempelai.

Pada saat hari pertunangan, bukan hanya {waktu ketikalmomen} si pria meminta restu ke bapak si wanita untuk melamar anak perempuannya. Saat itu, juga merupakan momen pertemuan dua keluarga untuk menyepakati kapan dilangsungkannya resepsi pernikahan.

Keluarga si wanita umumnya menjadibertindak sebagai penyelenggara pernikahan. Walaupun juga tak menutup opsi kalau keluarga si pemuda juga ingin pesta pernikahan.

Mendekati Momen Pernikahan

Di balik kabar lamaran juga terselip setumpuk kerepotan yang menunggu. Sedari perancangan hingga kegiatan pernikahan. Baik agenda utama yakni akad nikah maupun agenda turunannya yakni seremonial perkawinan.

Saat tanggal perkawinan sudah diputuskan, akan ada banyak hal yang harus ditunaikan sebelum hari itu benar-benar tiba. Ketika si anak perempuan sibuk dengan urusan kostum pengantin, sang bunda akan membantunya memilih kain dan mengusulkan tukang jahit paling bagus yang ia kenal.

Si ibu pula yang membersamainya mengerjakan berbagai pemeliharaan tubuh pengantin, sedari ujung kuku sampai ujung rambut. Sebelum hari pernikahan, sang ayah akan mengambil waktu khusus untuk ngobrol bersama anak gadisnya, mengutarakan beberapa petuah pernikahan. Ayah dan ibu pun turut membuat daftar tamu undangan.

Begitu halnya juga di kediaman si pemuda. Orang tua si pemuda juga tidak kalah repot. Ayah dan ibunya akan banyak bercerita nasehat pernikahan. Dengan dukungan oleh tetua dan seluruh anggota keluarga lainnya, ayah dan ibu sibuk persiapkan mahar beserta aksesoris lainnya.

Mereka tengah melatih diri untuk mengucapkan materi pidato di depan keluarga si wanita di saat pernikahan nanti.

Orang tua, dari pihak si wanita maupun si laki-laki tidak merasa terbebani dengan semua rencana pernikahan ini. Sebab pernikahan ini merupakan hajat mereka juga. Mereka tidak terbebani untuk ikut berkontribusi secara keuangan hanya untuk berjalannya pesta pernikahan.

Tiba di Hari Pernikahan

Di hari itu, ayah ibu “melepaskan” anak mereka menuju agenda hidup yang benar-benar baru, kehidupan bahtera rumah tangga. Seperti hari wisuda, orang tualah yang bertindak sebagai rektor di universitas keluarga. Orang tua menyatakan bahwa sang anak sudah lulus menjadi orang tua untuk anak keturunan nanti.

Seperti apapun acaranya, apakah kalian duduk bersanding di depan penghulu atau si perempuan menanti di dalam ruangan, jangan lupa mengabarkan bapak si perempuan. Sebab, bapak si gadis lah yang akan menikahkan kalian berdua di hadapan petugas KUA dan semua tamu. Lalu panjatan doa orang tua untuk kalian semua.

Di Hari Upacara Pernikahan

Kau barangkali sangat gugup mempersiapkan diri guna menempuh akad perkawinan sehingga tak peduli lagi dengan seluruh persiapan perayaan. Dikala itu, bapak dan bunda lah yang membatasi kendali sebab bagi mereka, mereka lah si pemilik hajat.

Orang tua kalian akan menyatukan kalian berdua di atas pelaminan. Masing-masing ayah akan menyampaikan kata-kata sambutan. Sedangkan ibu akan meyakinkan bahwa tamu undangan dijamu dengan sebaik mungkin.

Saat kamu duduk menemui dengan banyak tamu undangan, orang tuamu memastikan bahwa catering yang kamu pilih memenuhi seluruh kebutuhan, fotografer yang kamu pilih telah mendokumentasikan seluruh momen pernikahan, dan souvenir telah ada di meja penyambutan para tamu. Mereka pula yang memantau tatanan acara pernikahan sesuai dengan rencana.

Setelah Hari Acara Pernikahan

Kalian berdua kini telah sah menjadi 2 sejoli dengan status suami istri. Tamu undangan juga telah meninggalkan pesta. Tukang foto juga sudah siap mencetak hasil tugasnya. Catering akan segera dikembalikan. Dekorasi sudah dibongkar. Alunan lagu pesta sudah dihentikan. Kini tinggal ayah ibu yang tetap menemani kalian.

Ketika perayaan nikahan sudah usai, mereka pun masih sempat memikirkan biaya bulan madu kalian. Malahan hari-hari berikutnya, mereka terus berusaha menopang kehidupan pernikahan kalian baik materi maupun non materi.

Sebagai renungan, pernikahan itu seringkali adalah momen orang tua? Pikir lagi kecuali egomu terlalu besar untuk tidak mengikutsertakan ke-2 orang tua. Entah bagaimanapun juga, mereka memiliki peran besar dalam kehidupan pernikahanmu yang akan datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: